People of the Horse

Tiga tahun yang lalu, saya ditugaskan ke sebuah kabupaten di Bima, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat dan sempat berinteraksi lebih dekat dengan masyarakat yang setiap aspek kehidupannya begitu terkait erat dengan kuda.

To them, horses are not only symbol of tradition and means of transportation, but also prized as wealth and a source of pride.

To them, horses are not only symbol of tradition and means of transportation, but also prized as wealth and a source of pride.

Meskipun bertubuh kecil, kuda Bima/Sumbawa ini sudah lama terkenal sebagai jenis kuda yang jinak, bertenaga besar, juga gesit. Lingkungan yang panas dan gersang, menjadikannya tangguh. Bagi masyarakatnya, kuda tidak hanya melambangkan tradisi dan dijadikan sarana transportasi, tapi juga dihargai sebagai kekayaan dan simbol kebanggaan. Sejak abad ke-18, kuda dijadikan tunggangan para raja, bangsawan, serta panglima perang. Meskipun peran kuda kini kian tergerus zaman, di Bima, tradisi balap kuda masih dipertahankan, sehingga eksistensi kuda-kuda sumbawa ini tetap lestari. Yang menarik dari tradisi balap kuda ini adalah para joki memacu kuda tanpa dilengkapi pelana. Tak jarangnya joki-jokinya juga anak-anak ingusan bertubuh mungil, bahkan ada beberapa yang mengaku sudah diajarkan menunggang kuda sejak berusia tiga tahun.

484503_4412144551613_1215777333_n

406255_4412144151603_1139341572_n

376621_4412145191629_788059229_n

fall off the horse

fall off the horse

Kuda Bima/Sumbawa pun tentu mengingatkan kita pada susu kuda liar. Tapi, apakah susunya benar-benar berasal dari kuda liar? Sebenarnya, susu kuda liar ini hanya label, karena kuda-kuda tersebut sudah didomestikasi, hanya saja dibiarkan berlarian bebas tanpa dikurung kandang.

Salah satu ciri khas masyarakat Bima yang berhubungan dengan kuda lain adalah Ben-Hur, moda transportasi ditarik kuda yang menjadi pilihan masyarakat karena dapat mengangkut hampir segala hal. Benhur bisa dibawa melintasi air untuk mengantar penumpang ke kapal, atau mengangkut hasil nelayan untuk dibawa ke pasar ikan, mengantar anak-anak ke sekolah, dan juga berfungsi seperti delman biasanya.

IMG_1886

Benhur

Benhur

Kuda bagi warga Bima merupakan bagian yang tak terpisahkan dari dalam kehidupan masyarakat. Namun kini, kuda Bima kian terancam, berhubung upaya pelestariannya belum memperlihatkan hasil nyata.

-ESN-

Advertisements

Penumpang Gelap menuju Pulau Komodo

Pergi ke Pulau Komodo merupakan impianku sedari dulu. Keinginan itu semakin besar  ketika aku ditugaskan ke Pelabuhan Sape, Bima (Nusa Tenggara ) dan melihat sebuah kapal turis tujuan Pulau Komodo bersandar di dermaga di lokasi tempat aku ditugaskan. Bisa dibilang Bima – Komodo hanya berjarak sepelempar batu saja! Sudah sedekat ini, sayang kalau dilewatkan…

Komodo-National-Park 1600

Kesempatan itu akhirnya datang ketika masa tugasku di Sape sudah hampir berakhir. Beberapa hari sebelum kapal turis itu bertolak, kupastikan dulu apakah aku bisa ikut menampang kapal. Ternyata bisa!

Woohoo… Pulau Komodo … aku datang….

***

Kapal mulai bertolak sekitar pukul 08.00 WITA, membawa 12 orang turis asal Belanda. Setelah beberapa jam perjalanan, tujuan pertama kami adalah Pantai Tanjung Bendera. Sementara beberapa turis ber-snorkeling, aku mengamati pemandangan pantai dari atap kapal.

Pulau Tanjung Bendera

Pulau Tanjung Bendera

Perjalanan dilanjutkan menuju Pantai Pasir Merah, yang juga dikenal sebagai Pink Beach. Di pantai ini, aku merasa sangat beruntung diajak turun ke pantai. Awalnya aku hanya bermaksud untuk mengambil segenggam penuh pasir sebagai kenang-kenangan dan mengambil beberapa foto, tapi jernihnya air dan indahnya pasir serta karang membujukku untuk meletakkan kamera dan kemudian mencebur ke dalam air. Sayangnya, waktu yang terbatas memaksaku segera kembali ke kapal, dan melanjutkan perjalanan. Tapi aku berniat dalam hati bahwa suatu hari nanti aku akan kembali lagi kemari.

Merapat ke Pink Beach

Merapat ke Pink Beach

Di antar ke Pink Beach

Menuju ke Pantai

Pink Beach

Pink Beach

Pink Beach

Pink Beach

Para Turis Ber-snorkeling di Pink Beach

Para turis ber-snorkeling di Pink Beach

Sekitar pukul 16.00 WITA kami akhirnya tiba di Pulau Komodo. Deg-degan juga…

Berlabuh di Pulau Komodo

Berlabuh di Pulau Komodo

IMG01965-20121006-1624

***

Karena berstatus “penumpang gelap,” begitu sampai di Pulau Komodo, aku tidak ikut bersama turis-turis itu ke Taman Nasional Komodo, dan hanya memotret komodo di taman sekitar gerbang masuk. Tidak apa-apa, seperti dalam hidup, menetapkan tujuan memang penting, tapi pengalaman yang didapatkan selama menempuh perjalanan itu sendiri lebih berharga bagiku.

Komodo

Komodo

Setelah itu,  kami akan bermalam di Pulau Rinca. Walau terlambat dari rencana semula, kapal kami tetap berlayar menuju pulau tersebut. Berbekal pengalaman para awak kapal, kami berlayar dalam gelap, tanpa alat navigasi, dan lampu yang seadanya, hanya mengandalkan ingatan tentang posisi pulau-pulau kecil di sekitar situ. Bagi kru kapal, mungkin itu hal yang biasa. Tapi, aku deg-degan setengah mati. Apakah kami bisa sampai?

Dermaga Pulau Rinca

Dermaga Pulau Rinca

Akhirnya sampai juga ke Pulau Rinca. Segera setelah jangkar diturunkan, lampu-lampu dipadamkan, para penumpang dan awak kapal pun beristirahat.

Sekitar puku 05.30, aku terbangun dan bergegas keluar kapal untuk menikmati pemandangan di sekitar dan memastikan ada objek yang bisa kufoto. Kamera selalu siap di tanganku. Dengan air yang sangat tenang, matahari yang baru terbit menyoroti bukit-bukit sekitar dengan sinarnya yang kuning keemasan, tidak membuatku bosan memotret pemandangan tersebut, seakan-akan aku enggan melewatkan momen tersebut. Meskipun belum puas memotret, aku turun dari kapaldan  menuju dermaga, menunggu para turis memulai tur.

dermaga p rinca 2

Tak lama kemudian, kuputuskan untuk mengikuti rombongan memasuki taman nasional komodo di pulau rinca. Kelihatannya komodo-komodo di sini tidak sebanyak di Pulau Komodo sendiri.

Menyusuri Pulau Rinca

Menyusuri Pulau Rinca

Pemandangan di sekitar Pulau Rinca

Pemandangan di sekitar Pulau Rinca

Sebelum pulang menuju Labuan Bajo, kami terlebih dahulu mengunjungi Pantai Bidadari.

Pemandangan selama perjalanan menuju Pulau Bidadari

Pemandangan selama perjalanan menuju Pulau Bidadari

Pulau Kambing

Pulau Kambing

Sementara para turis memutuskan untuk ber-snorkeling di sana, aku pun memutuskan berenang menggunakan pelampung menuju bibir pantai. Sayang, aku tidak bisa mengambil foto di sini, karena harus berenang bolak-balik.

Pulau Bidadari

Pulau Bidadari

Pulau Bidadari

Pulau Bidadari

Setelah puas di sana, kami pun melanjutkan perjalanan.

Sore harinya, kami pun tiba di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, dan itu adalah tujuan akhir para turis. Sementara kami akan melanjutkan perjalanan lagi menuju Sape, Bima. Tapi, berhubung kapten kapal terlalu lelah untuk melakukan perjalanan, kami putuskan untuk menghabiskan malam di Labuan Bajo. Sementara itu, kami melakukan berbagai aktivitas untuk bersantai. Ada yang belanja ke Bajo, ada yang memancing, dan sebagainya.

Kapal-Kapal yang Bersandar di Labuan Bajo

Kapal-Kapal yang Bersandar di Labuan Bajo

Hasil memancing di Bajo

Hasil memancing di Bajo

Matahari terbenam di Labuan Bajo

Matahari terbenam di Labuan Bajo

Pemandangan di malam hari dari atas kapal

Pemandangan di malam hari dari atas kapal

Baru sekitar pukul 04.00 dini hari, kami pun bertolak dari Labuan Bajo untuk kembali ke Pelabuhan Sape, Bima.

Meninggalkan Labuan Bajo diantar oleh matahari terbit

Perjalanan kami menuju Sape diantar oleh matahari terbit

***

Dalam perjalanan pulang, cuaca cerah dan tampak tak ada masalah. Namun, sekitar 4 jam perjalanan, ombak mulai ganas dan badai menerjang, arus air menarik dengan cukup kuat. Sang kapten tampak sibuk mengendalikan arah kapal. Tiba-tiba, kapten memintaku memanggil mekanik dan mengatakan bahwa  kapal tidak bisa berbelok ke kiri. Selama perjalanan itu, kapten tak pernah sekali pun meminta bantuan atau menyuruhku dan dia memperlakukanku seperti turis lainnya. Tapi kali ini dia melakukannya, dan tiba-tiba aku sadar bahwa masalahnya sangat serius. Aku pun bergegas memanggil sang mekanik dan memberitahukan masalahnya.

Beberapa saat kemudian, sang mekanik menemukan kendala di ruang kendali. Ada besi-besi yang patah sehingga kemudi kapal tidak berfungsi. Mereka pun berusaha mengatasinya. Tapi masalah tidak sampai di situ. Kapal masih berada dalam posisi yang belum aman karena bisa terseret arus dan takutnya malah terempas ke karang di sekitar situ. Prioritas awak kapal yang pertama adalah mengarahkan kapal ke tempat yang aman.

Daannn … lagi-lagi berbekal pengalaman, kesabaran, serta kerjasama kru, kapal kami akhirnya bisa berlabuh di salah satu teluk di Pulau Bantah.

Setelah kapal bisa diperbaiki, kami melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Sape, Bima, dan tiba 2 jam kemudian dengan selamat, sehat walafiat, tak kurang suatu apa.

Fyuh…

Perjalanan yang awalnya menyenangkan, diakhiri dengan agak menegangkan.  Tapi bagiku, itu adalah pengalaman yang akan selalu dikenang. Seperti yang tadi kukatakan, menetapkan tujuan akhir memang penting, tapi pengalaman selama dalam perjalanan menuju tujuan juga tak kalah pentingnya.

Oh iya, dan berapa biaya yang kuhabiskan untuk perjalanan Sape – Taman Nasional Komodo ini? Nyaris gratis. 🙂

Itu juga penting. :p

(ESN – 251012)

Peta diambil dari http://www.indonesiatraveling.com/images%20nieuwe%20opzet/NTT%20Map%20Pics%20WM/Komodo-National-Park%201600.jpg

Artikel ini dimuat juga di http://www.wego.co.id/berita/jadi-penumpang-gelap-ke-pulau-komodo/

Ikan “Gitar Tua”

Sewaktu di Bandung, saya jarang bisa makan ikan laut. Tapi di Bima ini, hampir setiap hari saya bisa mencicipinya. Soalnya masih segar, hasil tangkapan melaut (para nelayan) hari itu.

Salah satunya ikan di bawah ini…

Ikan “Gitar Tua”

Penduduk Sape, Bima, menyebutnya ikan “Gitar Tua”, jadi inget Bang Rhoma…

Ada yang tahu apa nama asli ikan ini?

-ESN-

Pisang dari Sumba

Salah satu kapal bermuatan pisang yang berlabuh di Pelabuhan Sape, Bima, NTB

Sebagai salah satu pintu gerbang dari wilayah Timur ke Barat, Pelabuhan Sape, Bima, NTB sering didatangi kapal-kapal dengan bermacam-macam muatan. Salah satunya adalah kapal yang bermuatan pisang ini.

Awalnya, saya tidak terlalu menaruh perhatian. Tetapi, karena kapal-kapal lumayan sering datang dan muatan pisangnya sangat banyak, rasa ingin tahu saya pun tergugah.

Dari mana, ya, datangnya? Mau dibawa ke mana pisang-pisang itu?

Pisang-pisang dalam kapal ini, bisa dimuat ke dalam 5-7 truk ukuran sedang.

Setelah bertanya-tanya dengan kapten kapal, rupanya pisang itu datang dari Sumba, NTT. Dan hendak dibawa ke Jawa dan Bali serta pulau-pulau sekitarnya.

Sungguh, saya baru tahu, kalau Sumba ternyata salah satu penghasil pisang paling besar di Indonesia.

Story & Photo: ESN

Co-writer: nat

Location: Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat, Indonesia

Photo taken on July 23th, 2012

Mobil Impian: Land Rover 6 Roda

Dengan enam rodanya, mobil ini sungguh menarik perhatian

Pertama kali melihatnya, saya terkesan dengan modifikasi mobil ini. Keren, euy. Dengan enam rodanya, mobil ini sungguh menarik perhatian.  Tak diragukan lagi, ini jenis mobil yang diidam-idamkan orang yang suka bertualang. Akhirnya, saya berkesempatan untuk menyapa pemiliknya. Rupanya mereka terjebak dalam antrean naik kapal menuju Flores. “Sudah tiga hari saya terjebak di pelabuhan Sape ini,” kata si empunya. “Sebelum ini nggak pernah ada halangan. Tapi berhubung di pelabuhan ini kapal ferry-nya sedikit, jadi mobil yang ada nggak bisa diseberangkan semua.”

Dari pembicaraan kami, saya baru tahu ternyata bodi mobil land rover terbuat dari alumunium yang menjadikannya sangat ringan dan antikarat. Mobil itu sendiri dilengkapi dengan penggerak 6 roda, sehingga perjalanan melewati jalanan yang rusak nggak terlalu terasa.

Mobil ini dilengkapi dengan tenda, untuk berjaga-jaga kalau mereka harus tidur di alam terbuka. Mobil itu memang sudah disiapkan untuk melakukan perjalanan jauh. Kata yang punya, entah sudah berapa orang yang meminta izin untuk memotretnya.

Seiring berlalunya waktu, obrolan dari seputar mobil berubah menjadi lebih akrab dan mendalam. Terungkaplah cerita bahwa si pemilik mobil melakukan perjalanan bersama keluarganya (yang terdiri atas 4 orang), dari Pekan Baru, dengan tujuan akhir Flores. Mereka sudah melakukan perjalanan selama 2 minggu, berwisata semi bertualang, menyeberang dari pulau ke pulau tanpa kendala apa pun, sampai akhirnya terjebak di Bima. Padahal jika dibandingkan, jarak dari Bima ke Flores tinggal “sepelemparan batu” saja.

Lagi-lagi, mobil ini “mewakili” sebagian impian saya. Dan itu yang menjadikan pertemuan saya dengan pemiliknya sangat berkesan. Suatu hari nanti, saya akan membawa keluarga saya berkeliling Indonesia (dan dunia), seperti bapak yang saya lupa tanyakan namanya itu. Mungkin… dengan mobil yang serupa… (ESN)

Story & Photo: ESN

Co-writer: nat

Location: Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat, Indonesia

Photo taken on July 13th, 2012