Ada Totoro di Taman Inklusi

Bunyi klakson membangunkan putra bungsu saya. Selama kurang-lebih dua jam sebelumnya dia tertidur lelap sementara kendaraan kami terjebak dalam kemacetan kota Bandung yang kian merajalela. Masih dalam keadaan mengantuk, putra saya menunjuk sebuah taman bermain di tengah pepohonan lebat yang baru kami lewati. Kantuknya langsung hilang. Ia menunjuk, “Ada rumah Totoro,” katanya sambil memaksa agar kami menepi di salah satu taman tematik di Kota Bandung itu. “Nanti,” jawab saya. Setelah semua urusan tuntas (yaitu menikmati es krim di salah satu kafe jadul Bandung) baru kami kembali ke sana. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul empat sore.

IMG_1297-001

Taman Maluku di tengah kota Bandung ini kini berubah. Taman yang sempat berkonotasi negatif tersebut kini direvitalisasi menjadi taman tematik yang didedikasikan bagi para penyandang disabilitas—INKLUSI menjadi pilihan namanya. Di pintu masuk taman (kami masuk dari jalan saparua) terpampang tulisan besar-besar, TAMAN INKLUSI, dengan huruf N pada kata “Inklusi” yang dipasang terbalik, entah disengaja atau tidak. Meskipun demikian keremangan dan keseramannya masih terasa. Mungkin karena kondisinya masih sepi dan pepohonannya rimbun, areanya juga relatif “tertutup”. Dulunya, taman bernilai sejarah ini memang jarang dibuka untuk umum, dengan pagar tinggi yang mengitarinya, seolah menghalangi siapa pun untuk masuk. Belum lagi segala urban legend yang menyelubungi taman itu, tampaknya berhasil menakut-nakuti siapa pun yang bermaksud mendatanginya, kecuali tentu saja para pencari sensasi, atau orang-orang yang sekadar mencari tempat beristirahat sementara.

Di dalam kompleks taman, kami berbelok ke kiri. Pandangan kami terkunci pada struktur besi yang mirip dengan bilik telepon umum berwarna merah seperti yang ada di Inggris.  Rupanya bilik tersebut disiapkan sebagai micro-library yang memang sudah banyak disebar di kota Bandung. Sayangnya, belum ada bukunya. Sang walikota Bandung berambisi menjadikan kota ini sebagai kota “buku” mengikuti seabrek gelar lain yang berusaha dilekatkannya pada Kota Kembang ini.

IMG_1172-001

Berjalan sedikit lebih jauh lagi, terdapat arena permainan anak-anak yang agak unik. Sebenarnya sama saja dengan arena permainan anak lain, dengan perosotan dan semacamnya, yang membuatnya jadi unik adalah semua wahana di sana disiapkan agar bisa digunakan para penyandang disabilitas. Misalnya saja ayunannya berbentuk seperti kursi dan tempat tidur. Anak-anak sibuk bermain, sementara saya menenggelamkan diri dalam buku bacaan.

Setelah anak-anak puas dan habis digigiti nyamuk, kami melanjutkan petualangan mengitari kompleks taman. Kami menyeberangi jembatan kecil yang mengangkangi sungai kecil (atau selokan?), dan bertemu dengan kolam hias berair mancur yang kini sepertinya beralih fungsi sebagai kolam pancing, meskipun tidak secara resmi. Permukaan kolam lumayan dangkal, dan airnya pekat kehijauan. Di sekelilingnya dibatasi pagar besi. Udara sekitar agak lembap dan bau apak dari kolam tadi. Pepohonannya rimbun dan besar-besar.

Setiap beberapa meter di pinggir jalan setapak terdapat bangku-bangku besi dengan punjung tanaman di atasnya. Jadi mirip halte di pinggir jalan. Putra saya malah sempat bertanya, “Mana angkotnya?”

Jalan setapaknya dilapisi batu hampar, meski di sana-sini batunya licin saking berlumutnya, malah ada yang sudah hancur dan kondisinya becek karena habis hujan. Sambil melangkahkan kaki dengan hati-hati karena takut terjeblos genangan berlumpur, kami terus berjalan mengitari taman berukuran 6000 meter persegi itu. Fokus kami cuma satu, mencari rumah Totoro. Bagi yang belum tahu apa itu Totoro, silakan tonton sendiri film animasi keluaran Studio Ghibli tersebut.

Setengah jalan mengitari taman, kami mulai mencium bau-bauan tak sedap. Rupanya di pinggiran taman di bagian jalan Ambon (di depan dinas kependudukan Bandung), ada TPA sampah. Bau-bauannya lumayan mengganggu petualangan kecil kami kali ini. Kami pun mengayunkan langkah lebih cepat, karena selain bau, suasananya juga semakin mencekam. Kesan mistis di Taman Maluku sangat kental. Imajinasi saya sendiri semakin meliar. Saat itu mendung, dan kisah-kisah urban legend yang sering saya dengar pada masa remaja mulai membanjiri ingatan. Konon, Taman Maluku berada di wilayah paling angker di Bandung ini. Taman Inklusi ini dulunya bernama Molukken Park. Didirikan pada tahun 1919 sebagai taman rekreasi bagi noni-noni Belanda. Letaknya di antara jalan Ambon, Aceh, Sulawesi, Saparua, dan Seram, tepat di samping GOR Saparua. Di sana juga berdiri Patung Pastor Verbraak yang menjadi sumber urban legend yang beredar di kota Bandung. Silakan googling sendiri apa kisah-kisah yang terkait dengan sang pastor.

Dalam perjalanan pulang, mendadak putra saya menunjuk ke sebatang pohon besar, di area dekat patung Pastor Verbraak berdiri. “Rumah Totoro,” katanya. Entah apa yang dilihatnya di sana.

Bulu kuduk saya seketika meremang, saya pun buru-buru mengajak keluarga saya mengakhiri petualangan kami. Bagi penakut seperti saya, kalau hendak mengunjungi taman tematik ini saya sarankan lakukanlah pada siang hari yang terang-benderang dan ramai orang.

Sekian.

(Nat)

Advertisements

[Humans of Indonesia]: Tata, Kusir Delman

1-DSCF4014

 

Ini Pak Tata, kusir delman nan ramah yang mangkal di sekitar Taman Cibeunying, Bandung. Biasanya, beliau mangkal di Soreang. Tapi khusus hari Minggu, dalam upaya mencari tambahan, beliau pindah mangkal ke Bandung, dan pendapatannya bisa naik drastis sampai 200rb dari yang awalnya hanya sekitar 30rb per harinya.

Photo: Ergina Satria

Photo Contest: Imaji Penjelajahan

Dapat info kalau fotokita mengadakan lomba fotografi yang bertajuk Imaji Penjelajahan. Berikut penjelasan singkatnya…

National Geographic Society yang memiliki misi menjelajah, selalu mencoba menyajikan foto-foto berkisah yang dapat mengubah persepsi dan, sebisa mungkin, mengubah kehidupan. Karya foto yang ditampilkan oleh National Geographic tersebut dihasilkan dari proses penjelajahan.

Melalui Kontes Foto “Imaji Penjelajahan”, kami mengajak Sahabat-Sahabat National Geographic Indonesia untuk menjadi Penjelajah NGI yang mampu menghasilkan karya foto penjelajahan yang berkisah dan menginspirasi. Nantinya, foto-foto yang masuk akan dipilih oleh Redaksi National Geographic Indonesia dan juga Kurator FOTOKITA untuk ditetapkan sebagai Pemenang. Pemenang Kontes Foto akan mendapat Hadiah dan juga Sertifikat dari National Geographic Indonesia.

 

Batas Waktu dan Penjurian Lomba

  • Periode lomba 6 November-30 November 2013
  • Pengumuman pemenang 10 Desember 2013

 

Untuk info lebih lanjut, coba cek ke sini.

Famous Photographers Pose with Their Most Iconic Images

Di balik sebuah foto ada sebuah kisah. Kisah tersebut hampir diketahui oleh semua orang. tapi jarang ada yang mengetahui siapa fotografer di baliknya.

Inilah yang hendak disampaikan oleh Tim Mantoani lewat buku kumpulan fotonya, Behind Photographs: Archiving Photographic Legends. 

Berikut beberapa fotonya:

Bill Eppridge stands with his photo of Robert F. Kennedy after his assassination on June 5, 1968.

Bill Eppridge stands with his photo of Robert F. Kennedy after his assassination on June 5, 1968.

Brent Stirton and his photo "the dead of silverback mountain gorilla"

Brent Stirton and his photo “the dead of silverback mountain gorilla”

Brian Smith: "The magic of photography happens when you don't see what's coming next."

Brian Smith: “The magic of photography happens when you don’t see what’s coming next.”

Douglas Kirkland: "This is from my Evening with Marilyn."

Douglas Kirkland: “This is from my Evening with Marilyn.”

Elliot Erwitt: "The picture I am holding was snapped in 1974 just across the street from my apartment in New York's Central Park. It has been 38 years since that event and sadly I have lost track of the participants."

Elliot Erwitt: “The picture I am holding was snapped in 1974 just across the street from my apartment in New York’s Central Park. It has been 38 years since that event and sadly I have lost track of the participants.”

Harry Benson: "Brian Epstein — Beatles' manager — had just told them they were number one in America, and I was coming with them to New York, 1964."

Harry Benson: “Brian Epstein — Beatles’ manager — had just told them they were number one in America, and I was coming with them to New York, 1964.”

Jeff Widener holds his photo of Tank Man in Tienanmen Square from 1989.

Jeff Widener holds his photo of Tank Man in Tienanmen Square from 1989.

Karen Kuehn: "From the 1993 Cats Story shot for National Geographic. The director Thomas Kennedy asked me to shoot an entire story about 'cats.' He did not want it to be typical! So problem solving this assignment was good fun. The Russian Blue Cat and Ballerina legs was inspired by George Balanchine — he used the idea of cats landing always on their toes to teach his dancers."

Karen Kuehn: “From the 1993 Cats Story shot for National Geographic. The director Thomas Kennedy asked me to shoot an entire story about ‘cats.’ He did not want it to be typical! So problem solving this assignment was good fun. The Russian Blue Cat and Ballerina legs was inspired by George Balanchine — he used the idea of cats landing always on their toes to teach his dancers.”

Mary Ellen Mark and her photograph of "Ram Prakash Singh and his beloved elephant Shyama."

Mary Ellen Mark and her photograph of “Ram Prakash Singh and his beloved elephant Shyama.”

Neil Leifer holds his photo, Ali vs. Liston, which he took on May 25, 1965 in Lewiston, Maine.

Neil Leifer holds his photo, Ali vs. Liston, which he took on May 25, 1965 in Lewiston, Maine.

Steve McCurry holds his 1984 photo of a young woman from Peshawar, Pakistan. "I looked for this girl for 17 years and finally found her in 2002. Her name is Sharbat Gula."

Steve McCurry holds his 1984 photo of a young woman from Peshawar, Pakistan. “I looked for this girl for 17 years and finally found her in 2002. Her name is Sharbat Gula.”

Mark Seliger: "Originally an inside opener for Rolling Stone cover story of Nirvana in conjunction with the release of In Utero, my first Polaroid (with Negative) was by far the most emotional and revealing of his spirit. Two months later Kurt died from a self-inflicted gunshot wound to his head. This photograph became the memorial RS cover."

Mark Seliger: “Originally an inside opener for Rolling Stone cover story of Nirvana in conjunction with the release of In Utero, my first Polaroid (with Negative) was by far the most emotional and revealing of his spirit. Two months later Kurt died from a self-inflicted gunshot wound to his head. This photograph became the memorial RS cover.”

Pengen beliiiiii…

-ESN-

Sumber: http://www.wired.com/rawfile/2012/01/famous-photogs-pose-with-their-most-iconic-images