Penumpang Gelap menuju Pulau Komodo

Pergi ke Pulau Komodo merupakan impianku sedari dulu. Keinginan itu semakin besar  ketika aku ditugaskan ke Pelabuhan Sape, Bima (Nusa Tenggara ) dan melihat sebuah kapal turis tujuan Pulau Komodo bersandar di dermaga di lokasi tempat aku ditugaskan. Bisa dibilang Bima – Komodo hanya berjarak sepelempar batu saja! Sudah sedekat ini, sayang kalau dilewatkan…

Komodo-National-Park 1600

Kesempatan itu akhirnya datang ketika masa tugasku di Sape sudah hampir berakhir. Beberapa hari sebelum kapal turis itu bertolak, kupastikan dulu apakah aku bisa ikut menampang kapal. Ternyata bisa!

Woohoo… Pulau Komodo … aku datang….

***

Kapal mulai bertolak sekitar pukul 08.00 WITA, membawa 12 orang turis asal Belanda. Setelah beberapa jam perjalanan, tujuan pertama kami adalah Pantai Tanjung Bendera. Sementara beberapa turis ber-snorkeling, aku mengamati pemandangan pantai dari atap kapal.

Pulau Tanjung Bendera

Pulau Tanjung Bendera

Perjalanan dilanjutkan menuju Pantai Pasir Merah, yang juga dikenal sebagai Pink Beach. Di pantai ini, aku merasa sangat beruntung diajak turun ke pantai. Awalnya aku hanya bermaksud untuk mengambil segenggam penuh pasir sebagai kenang-kenangan dan mengambil beberapa foto, tapi jernihnya air dan indahnya pasir serta karang membujukku untuk meletakkan kamera dan kemudian mencebur ke dalam air. Sayangnya, waktu yang terbatas memaksaku segera kembali ke kapal, dan melanjutkan perjalanan. Tapi aku berniat dalam hati bahwa suatu hari nanti aku akan kembali lagi kemari.

Merapat ke Pink Beach

Merapat ke Pink Beach

Di antar ke Pink Beach

Menuju ke Pantai

Pink Beach

Pink Beach

Pink Beach

Pink Beach

Para Turis Ber-snorkeling di Pink Beach

Para turis ber-snorkeling di Pink Beach

Sekitar pukul 16.00 WITA kami akhirnya tiba di Pulau Komodo. Deg-degan juga…

Berlabuh di Pulau Komodo

Berlabuh di Pulau Komodo

IMG01965-20121006-1624

***

Karena berstatus “penumpang gelap,” begitu sampai di Pulau Komodo, aku tidak ikut bersama turis-turis itu ke Taman Nasional Komodo, dan hanya memotret komodo di taman sekitar gerbang masuk. Tidak apa-apa, seperti dalam hidup, menetapkan tujuan memang penting, tapi pengalaman yang didapatkan selama menempuh perjalanan itu sendiri lebih berharga bagiku.

Komodo

Komodo

Setelah itu,  kami akan bermalam di Pulau Rinca. Walau terlambat dari rencana semula, kapal kami tetap berlayar menuju pulau tersebut. Berbekal pengalaman para awak kapal, kami berlayar dalam gelap, tanpa alat navigasi, dan lampu yang seadanya, hanya mengandalkan ingatan tentang posisi pulau-pulau kecil di sekitar situ. Bagi kru kapal, mungkin itu hal yang biasa. Tapi, aku deg-degan setengah mati. Apakah kami bisa sampai?

Dermaga Pulau Rinca

Dermaga Pulau Rinca

Akhirnya sampai juga ke Pulau Rinca. Segera setelah jangkar diturunkan, lampu-lampu dipadamkan, para penumpang dan awak kapal pun beristirahat.

Sekitar puku 05.30, aku terbangun dan bergegas keluar kapal untuk menikmati pemandangan di sekitar dan memastikan ada objek yang bisa kufoto. Kamera selalu siap di tanganku. Dengan air yang sangat tenang, matahari yang baru terbit menyoroti bukit-bukit sekitar dengan sinarnya yang kuning keemasan, tidak membuatku bosan memotret pemandangan tersebut, seakan-akan aku enggan melewatkan momen tersebut. Meskipun belum puas memotret, aku turun dari kapaldan  menuju dermaga, menunggu para turis memulai tur.

dermaga p rinca 2

Tak lama kemudian, kuputuskan untuk mengikuti rombongan memasuki taman nasional komodo di pulau rinca. Kelihatannya komodo-komodo di sini tidak sebanyak di Pulau Komodo sendiri.

Menyusuri Pulau Rinca

Menyusuri Pulau Rinca

Pemandangan di sekitar Pulau Rinca

Pemandangan di sekitar Pulau Rinca

Sebelum pulang menuju Labuan Bajo, kami terlebih dahulu mengunjungi Pantai Bidadari.

Pemandangan selama perjalanan menuju Pulau Bidadari

Pemandangan selama perjalanan menuju Pulau Bidadari

Pulau Kambing

Pulau Kambing

Sementara para turis memutuskan untuk ber-snorkeling di sana, aku pun memutuskan berenang menggunakan pelampung menuju bibir pantai. Sayang, aku tidak bisa mengambil foto di sini, karena harus berenang bolak-balik.

Pulau Bidadari

Pulau Bidadari

Pulau Bidadari

Pulau Bidadari

Setelah puas di sana, kami pun melanjutkan perjalanan.

Sore harinya, kami pun tiba di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, dan itu adalah tujuan akhir para turis. Sementara kami akan melanjutkan perjalanan lagi menuju Sape, Bima. Tapi, berhubung kapten kapal terlalu lelah untuk melakukan perjalanan, kami putuskan untuk menghabiskan malam di Labuan Bajo. Sementara itu, kami melakukan berbagai aktivitas untuk bersantai. Ada yang belanja ke Bajo, ada yang memancing, dan sebagainya.

Kapal-Kapal yang Bersandar di Labuan Bajo

Kapal-Kapal yang Bersandar di Labuan Bajo

Hasil memancing di Bajo

Hasil memancing di Bajo

Matahari terbenam di Labuan Bajo

Matahari terbenam di Labuan Bajo

Pemandangan di malam hari dari atas kapal

Pemandangan di malam hari dari atas kapal

Baru sekitar pukul 04.00 dini hari, kami pun bertolak dari Labuan Bajo untuk kembali ke Pelabuhan Sape, Bima.

Meninggalkan Labuan Bajo diantar oleh matahari terbit

Perjalanan kami menuju Sape diantar oleh matahari terbit

***

Dalam perjalanan pulang, cuaca cerah dan tampak tak ada masalah. Namun, sekitar 4 jam perjalanan, ombak mulai ganas dan badai menerjang, arus air menarik dengan cukup kuat. Sang kapten tampak sibuk mengendalikan arah kapal. Tiba-tiba, kapten memintaku memanggil mekanik dan mengatakan bahwa  kapal tidak bisa berbelok ke kiri. Selama perjalanan itu, kapten tak pernah sekali pun meminta bantuan atau menyuruhku dan dia memperlakukanku seperti turis lainnya. Tapi kali ini dia melakukannya, dan tiba-tiba aku sadar bahwa masalahnya sangat serius. Aku pun bergegas memanggil sang mekanik dan memberitahukan masalahnya.

Beberapa saat kemudian, sang mekanik menemukan kendala di ruang kendali. Ada besi-besi yang patah sehingga kemudi kapal tidak berfungsi. Mereka pun berusaha mengatasinya. Tapi masalah tidak sampai di situ. Kapal masih berada dalam posisi yang belum aman karena bisa terseret arus dan takutnya malah terempas ke karang di sekitar situ. Prioritas awak kapal yang pertama adalah mengarahkan kapal ke tempat yang aman.

Daannn … lagi-lagi berbekal pengalaman, kesabaran, serta kerjasama kru, kapal kami akhirnya bisa berlabuh di salah satu teluk di Pulau Bantah.

Setelah kapal bisa diperbaiki, kami melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Sape, Bima, dan tiba 2 jam kemudian dengan selamat, sehat walafiat, tak kurang suatu apa.

Fyuh…

Perjalanan yang awalnya menyenangkan, diakhiri dengan agak menegangkan.  Tapi bagiku, itu adalah pengalaman yang akan selalu dikenang. Seperti yang tadi kukatakan, menetapkan tujuan akhir memang penting, tapi pengalaman selama dalam perjalanan menuju tujuan juga tak kalah pentingnya.

Oh iya, dan berapa biaya yang kuhabiskan untuk perjalanan Sape – Taman Nasional Komodo ini? Nyaris gratis. 🙂

Itu juga penting. :p

(ESN – 251012)

Peta diambil dari http://www.indonesiatraveling.com/images%20nieuwe%20opzet/NTT%20Map%20Pics%20WM/Komodo-National-Park%201600.jpg

Artikel ini dimuat juga di http://www.wego.co.id/berita/jadi-penumpang-gelap-ke-pulau-komodo/

Advertisements